Cerita Para Pendatang di Wamena Bersatu Lawan Perusuh Demi Keselamatan Nyawa

Merdeka.com – Kegiatan belajar mengajar di sebuah sekolah di Kabupaten Membramo Tengah, berjalan seperti biasa pada Senin pagi 23 September silam. Tiba-tiba, sampailah informasi ada kerusuhan di Wamena.

Suasana tenang berubah kepanikan. Apalagi, kabar diterima para perusuh juga mencari pendatang.

Pihak sekolah memutuskan memulangkan murid-murid lebih awal. Pelajaran hari itu ditiadakan.

Begitulah yang teringat jelas di ingatan guru Y (28). Sudah empat tahun dia mengajar sebagai guru di sana.

Kecemasan luar biasa dirasakan Y jika kabar itu benar adanya. Y, istrinya S (28) dan dua mereka, memang warga pendatang. Di sekolahnya, ada dua guru yang juga perantauan.

“Saya ambil motor jemput istri dan anak-anak di Distrik Kelila, Memberamo Tengah. Lalu saya bawa ke sekolah yang juga telah berkumpul semua guru-guru pendatang. Saya kebetulan koordinator guru. Jaringan saat itu bagus lalu saya komunikasi dengan ketua klasis (majelis gereja) dan Pak Gembala (pengurus gereja) dan ketua kampung. Lalu kami kurang lebih 10 orang dibawa ke gereja dan disembunyikan di gudang gereja mulai dari jam 3 sore sampai jam 7 malam. Karena ketua klasis, pak gembala dan ketua kampung mengkhawatirkan kondisi kami, akhirnya komunikasi dengan Koramil dan kami pun dijemput,” kata Y, menceritakan suasana mencekam saat itu.

Sementara lokasi di sekitar tempat persembunyian Y terlihat mengepul asap. Jarak pandang sangat terbatas. Orang-orang melakukan pembakaran. Mereka pakai seragam sekolah, tapi dia tak yakin mereka benar-benar anak sekolah.

“Mereka mencari orang-orang berambut lurus atau pendatang. Pokoknya yang rambut lurus jadi buruan, tidak lihat lagi laki-laki, perempuan atau anak-anak tetap dapat bunuh (ancaman). Karena tidak mau mati percuma, kami pendatang akhirnya bersatu. Di sana banyak pendatang, hampir semua gang ada pendatang. Lalu kami keluar mengejar hingga mereka berlarian masuk hutan. Tentara dan polisi melerai. Ada dua orang di antara mereka ditangkap dan kita bawa ke polisi,” ungkapnya.

Setelah mengungsi di koramil, Y dan keluarga serta sesama guru pendatang dievakuasi lagi ke Kodim. Sempat menginap di sana, mereka lalu ke Jayapura dan akhirnya tiba di Makassar.

Meski tugas di Memberamo Tengah, tepatnya di perbatasan daerah itu dengan Wamena, mereka punya rumah dinas di kawasan Wamena.

“Kita tidak peduli lagi bagaimana rumah itu yang penting selamat. Beli baju saja nanti di atas kapal,” kata Y.

Dia masih memiliki keinginan kembali melanjutkan tugasnya menjadi guru di Wamena. Namun, katanya, dia ingin memulihkan diri terlebih dulu dari trauma. Selain itu, sampai suasana di Wamena benar-benar kondusif.

Keluarga kecilnya tiba di Makassar setelah KM Ciremai mengangkutnya bersama ratusan pengungsi lain bersandar di Pelabuhan Soekarno Hatta, Sabtu kemarin, (5/10) pukul 16.10 wita. Rencananya, dia akan menenangkan diri dulu di kampungnya di Kabupaten Toraja Utara, Sulsel.

Trauma yang sama juga dialami pengungsi asal Kabupaten Toraja, R (28). Selama di Wamena, dia bekerja di salah satu perusahaan yang saat ini mengerjakan proyek yang lokasinya di dalam hutan.

Dia seorang pelaksana, sopir, operator dan tukang yang jumlahnya sekitar 40 orang semuanya asal Toraja.

Saat kerusuhan pecah, dia dan beberapa tenaga kerja lainnya sedang berada di mess di Wamena. Mereka keluar lokasi pengerjaan jalan karena bahan bakar solar habis sejak Minggu 22 September.

“Saat kejadian kita sudah di Wamena. Tidak keluar dari mess tapi dapat lihat kejadian. Bakar-bakar di mana-mana. Mess kita dijaga pengamanan internal perusahaan,” kata R.

Meski tidak sempat berhadapan dengan massa perusuh, R tetap ketakutan informasi yang dia dapat mereka cari pendatang berambut lurus.

“Pokoknya mereka cari semua yang berambut lurus, kulit warna sawo, tidak pandang asal Toraja, Jawa atau Poso yang penting rambut lurus. Meski aman di mess, saya pilih pulang dulu. Takutnya kalau tiba-tiba ada serangan. Apalagi kalau masuk hutan teruskan pekerjaan, bisa-bisa jadi sasaran,” tutur R. [lia]

Merdeka.com